Bagaimana Kondisi Penjualan Properti di Jakarta. Pasar penjualan properti di Jakarta menunjukkan tanda pemulihan moderat di awal 2026. Segmen rumah tapak tetap jadi penopang utama, didorong end-user dan insentif pemerintah, sementara apartemen masih menghadapi tantangan dari yield rendah dan preferensi hunian landed. Harga residensial secara keseluruhan tumbuh lambat, tapi proyeksi 2026 lebih optimis berkat suku bunga rendah dan program rumah murah. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang selektif, di mana segmen menengah bawah lebih aktif dibanding premium. INFO TOGEL
Tren Segmen Rumah Tapak: Bagaimana Kondisi Penjualan Properti di Jakarta
Rumah tapak di Jabodetabek, termasuk Jakarta, jadi primadona penjualan sepanjang 2025 hingga awal 2026. Pembeli mayoritas end-user mencari hunian harga di bawah Rp2 miliar, dengan tingkat serap tinggi hingga 93% di beberapa proyek. Wilayah pinggiran seperti Tangerang dan Bogor laris karena akses infrastruktur membaik dan lahan lebih luas.
Harga rata-rata rumah tapak sedikit turun atau stagnan di 2025, sekitar Rp2,4 miliar per unit, tapi volume penjualan naik berkat insentif PPN DTP dan KPR suku bunga rendah. Di awal 2026, tren ini diproyeksi berlanjut dengan pertumbuhan 2-3%, didukung program 3 juta rumah nasional yang fokus segmen terjangkau.
Kondisi Pasar Apartemen: Bagaimana Kondisi Penjualan Properti di Jakarta
Apartemen di Jakarta masih lesu di 2025, dengan penjualan primer kontraksi dan stok kosong menumpuk hingga puluhan ribu unit. Yield sewa di bawah 4% bikin investor ragu, sementara pembeli end-user lebih pilih rumah tapak. Penjualan strata baru minim, terutama di segmen menengah atas, meski insentif pajak sempat dorong sedikit di paruh akhir tahun.
Memasuki 2026, apartemen diprediksi mulai pulih perlahan, terutama di kawasan TOD seperti dekat MRT atau LRT. Harga jual rata-rata naik tipis 8-12% di 2025, diproyeksi 10-15% lagi jika infrastruktur selesai. Segmen premium di Jakarta Selatan tetap stabil, tapi pasar keseluruhan masih butuh waktu recovery penuh.
Faktor Pendukung dan Tantangan
Suku bunga BI yang turun agresif di 2025 jadi pendorong utama, tingkatkan daya beli KPR dan rotasi dana ke properti. Insentif pajak serta program rumah murah nasional beri angin segar bagi residensial menengah bawah. Infrastruktur seperti tol baru dan MRT fase lanjutan dorong nilai properti di koridor tertentu.
Tantangan tetap ada: daya beli masyarakat belum pulih total, yield apartemen rendah, serta stok berlebih di segmen atas. Ekonomi global yang fluktuatif juga bikin pembeli hati-hati, meski proyeksi pertumbuhan Indonesia stabil di atas 5% beri harapan positif untuk 2026.
Kesimpulan
Kondisi penjualan properti di Jakarta awal 2026 menunjukkan pemulihan bertahap, dengan rumah tapak kuat sebagai penopang dan apartemen mulai tunjukkan tanda bangkit. Faktor suku bunga rendah, insentif pemerintah, serta infrastruktur jadi katalis utama, meski tantangan stok dan daya beli masih perlu diatasi. Bagi pembeli atau investor, saat ini peluang bagus di segmen menengah bawah atau lokasi strategis. Pasar properti Jakarta tetap resilient, dengan prospek cerah di 2026 jika kebijakan pendukung berlanjut.